una Cazzata, dal Lago di Garda.

(A non sense, from Garda Lake)

Ada tikus mati, 

di belakang parkiran roda dua, Kedonganan, pasar ikan di Jimbaran. Orang bersahutan di dalam pasar, menawar harga , bertegang urat demi 5000 yang berbeda. 

Bangkai tikus itu menggiringku pada ingatan bangkai lainnya. Ingatan pada bangkai ikan, di bibir danau, di musim panas lalu. Coregonus sp atau ikan Putih itu, sudah menggelembung, terseok-seok disapu riak Danau Garda, disengat matahari musim panas, diacuhkan rombongan turis dan angsa-angsa. Sendiri, sepi dan mati. 

Kemarin, kami bersulang sampai malam. Orang-orang Italia ini tahu pasti cara berpesta. Dan ya, kita akan tahu kita berada di Italia, dari cara orang berdandan saja. Tidak ada kaos biru tosca dipadu dengan celana pendek orange di sini, ini bukan Belanda bung. Ini jauh dari Meneer en Mevrouw  norak di belahan utara.  Ini negara beribukota Milan, dimana “fashion” bergema kencang lebih dari “passion”. Kami bersulang untuk Giulia, untuk gelar master nya dan untuk lelucon hidup nya setelah wisuda. 

(Photo by: Mei Basri di  https://www.instagram.com/p/BN4tlmYgRFt/)

Kami berenang di Garda,  menyelam mencari kerang-kerang danau dan melempari angsa-angsa besar. Marta menyuruhku menghitung, lalu dia menyelam menahan napas. Corentin buang air kecil and kentut di sebelah Giulia, yang memaki dengan bahasa ibunya. Kami berbilas dan pergi menulusuri Limone sul Garda. Kami memesan rosé/rosato dingin, dan sepiring keju-keju sebagai kudapan memulai omong kosong. 

Kami membicarakan wine, dan hidup. Hidup mungkin seperti wine, yang semakin tua biasanya semakin terasa hidupnya. Hidup pun seperti wine, yang kita harapkan dapat begitu jelas seperti merah dan putih. Namun sayangnya, atau mungkin untungnya, pada banyak kesempatan kita seperti rosé. Plin-plan. tidak bisa menentukan sikap. Atau selalu di antara.  Antara merah dan putih, antara evolusi dan kitab suci. Antara Tuhan dan Big-Bang. Antara hantu dan alien. Antara kesurupan dan sugesti. Antara cinta dan benci. 

Lalu kami berkemas, membeli sabun berbau lemon dan menuju parkiran. Aku memandang sekali lagi, pada bangkai ikan di pinggir danau. Aku pikir, tak ada yang salah dengan antara merah  dan putih. Di dalam hidup yang sempit dan sebentar ini, kita cuma harus memilih, jadi merah atau putih, pada evolusi atau kitab suci. Di sisi Tuhan atau menasbihkan Dentuman Besar. Karena, apalah arti hidup bila selalu di antara? mungkin seperti bangkai ikan di bibir danau. Sendiri, sepi dan mati. 

Advertisements

Jarak dan kata kerja sebelum bercinta

Biarkan aku menjengkali jarak,

Mengulang jalan pada malam-malam dingin , dihembuskan angin Summano.

Aku ingin tinggi sekali lagi, berkali-kali lagi, di Mosson Bar, tempat tua-tua bermain briscola. 

——-

Jarak seperti diafragma, menjadi rumpang bagi sesuatu dan suatu lainnya. Menjadi alasan meninggalkan suatu untuk sesuatu lainya. Menjadi kausa untuk lama-lama menatap album-album penuh melankolia.

Karena jarak, Aku bersulang pada tiap sapa di jam makan siang, musim panas dan semi. Lalu berdansa setelah makan malam,  musim dingin dan gugur dengan Chianti. Karena jarak, kita bersuka ria dan bergairah seperti ayam. Tapi, aku jemu bercinta dengan bayangan, di gelap kamar tamu, di rumah-rumah tanpa nama, di atas pokok Jepun dan Bugenvil. 

Karena jarak,Aku muak bercinta dan lupa setelahnya.

 

Juanda, 21 October 2018.

Jamuan musim panas (Preambule)

-Untuk hujan,hujan rindu yang tak sanggup kubendung-

“Aku rindu dipeluk mimpi-mimpi, hangat dan lekat”

 

 

—————————————————————————

Musim Panas, Tahun sekian.

Tokoh utama kita disana, lelaki yang setengah berlari dengan muka setengah cemas.

Nafas laki-laki itu  tersenggal, memikul carrier bervolume 60 liter, di tengah ramai nya pasar sayur dan buah, di pelataran cours Mirabeau, Aix-en-Provence.

“Sial!!” umpatnya dalam hati.

Panen raya musim panas, buah dan sayur tumpah ruah, tomat tomat merona, anggur-anggur berkilauan, apel beragam warna, segar dan menor, menggugah selera, menambah gairah di kota cantik ini, di Sabtu menuju siang.

Tapi ia tak sempat, takkan sempat. Karena nya lah dia mengumpat. Ia sedang mengejar bus, jurusan akhir Marseille, kota pelabuhan di ujung selatan Perancis.  Kertas brosur jadwal keberangkatan bus yang diterjemahkan nya susah payah, kini diremas keras, renyuh dalam genggaman. Dalam pikulannya, ada pakaian tipis untuk 2 minggu, sebuah kamera pinjaman yang usang, sebotol Cabernet Sauvignon murahan sisa semalam, botol air minum yang setengah penuh, sebuah  tenda kecil kapasitas 2 orang, On the road- nya Jack Kerouac yang tertumpuk bersama sebuah sendal musim panas, kacamata renang yang berpilin dengan alat mandi seadanya dilipat dalam handuk besar agak lembab menunggu di jemur. Badan kering kecilnya mencoba secepat mungkin, menerobos , meliuk di antara barisan orang-orang Perancis yang selalu memasang wajah cemberut. Tak jarang ia terlihat sempoyongan, dibawa beratnya tas carrier,  mengelak dan memilih sela-sela,  diantara kubis, beetroots, artichoke, tumpukan tumpah ruah buah-buah dan cemberut dan bau badan musim panas orang Perancis.

“Brukkk!!!!”

Laki-laki kita menyenggol pria tua yang menggandeng keranjang belanja, berkacamata hitam dan bertopi fedora!

” oooouuu Merde!!!” pria tua itu memekik. ” Parrdong, Parrrdong , Mongsuur” . Si tokoh utama kita meminta maaf , menekan huruf ‘R” dan mendengaukan N dan G di belakang, yang dia pikir akan membuat logatnya dimengerti, namun sambil tetap berlari, tak mau resiko ketinggalan bus bertambah tinggi. Meninggalkan lelaki tua Perancis berfedora itu mengomel, membuat cemberut wajah nya lebih -lebih dari biasanya.

Tokoh utama kita, sudah tak karuan nafasnya. Isi tas nya hampir-hampir keluar, rambutnya kusut, peluhnya penuh. Dari jauh, dia seperti seorang gipsy Rumania, memikul seluruh harta benda nya, ditengah pasar, dikejar polisi-polisi London, yang meniup kencang peluit, setelah ketahuan menipu dalam judi kartu. Tiba-tiba, air muka nya berubah, dilihatnya punggung sebuah bus! 50 meter di depannya! Dia mengencangkan larinya, menambah riuh bunyi barang beradu dalam tas nya, mengguncang botol dengan botol, buku dengan sabun mandi, kamera dengan gumpalan baju-baju lusuhnya.

Akhirnya, Lelaki kita tiba di samping bus, di antrean menunggu masuk. Peluh luruh, baju nya basah. Baju hitam band Bali kesayangan nya itu, sudah saat nya dicuci, bukan cuma dijemur angin-angin seperti yang dia lakukan sebelumnya, di kamar couchsurfing  di kota tetangga, Avignon. Ditariknya nafas nya dalam-dalam, dicoba nya meredakan gemuruh di dadanya, sambil melepaskan pandangan ke baris antrian. Lagi-lagi, dia satunya-satunya Asia, atau bertampang Asia, tak tampak mata sipit dan kulit coklat lainnya di barisan penumpang yang antre. Mungkin, tak ada Asia yang jalan jalan, sebangkrut dan sesendirian dirinya, luntang-lantung sudah di hari ke-4 di misi musim panas nya.

Kini giliranya naik ke bus, dirogohnya kantong celana, ada uang 20 euro seingatnya. ” Un Billet pour Marseille, s’ill vous plait” ( dengan bunyi seperti ini ketika sang lelaki melafaskannya: ang bile pouurrrrg marrgggseeeiii, silbuple”) , katanya membeli satu tiket. Sebagian kursi di bagian depan telah terisi, dilihatnya ada sepasang kursi kosong di bagian belakang. Setelah di letakkannya tas dan harta bendanya, dia hempaskan seluruh tubuhkan, duduk di kursi. Dibuka nya tirai jendela bus, disapu nya pemandangan di luar. Ada sebuah taman, dengan kolam kecil di seberang bus. Bebek dan angsa berteduh, di bawah pohon Hazel atau Noisetier, yang berbuah atau berbiji hijau dan coklat, dirundungi burung- burung yang mencicit menyemarakkan situasi.  Bus mulai dinyalakan, pak Supir berbicara bahasa Perancis di microfon, lalu bus meninggalkan terminal pemberhentian Aix en provence, menuju Marseille, yang berbau lautan dan amis pelabuhan. Pelan dan sunyi, tak ada klakson yang akan menambah panas hari dan hati.

Tenggorokannya kering, lelaki lusuh kita membuka tas nya, mengambil botol air minum. Ditegukknya pelan-pelan, menikmati tiap tetes hingga tandas. Botol pun kosong, sang lelaki bermaksud memasukkan botol kembali ke dalam tas nya, melongok isi tas yang acak kadut, dia tertegun. Sang lelaki bermaksud membenarkan isi tasnya, dikeluarkan nya barang-barang, dan diletakkannya di kursi sebelah yang kosong- 

“KANCIAANG!!!!!!” – sang laki-laki kita pucat, pias! telah selesai dimasukkannya semua barang dengan benar, dan ..

“OH Biung, dimana dompet sialan!!!”” ujarnya lirih, kalut.

—————————————————————————

 

 

 

 

( Sebuah pembukaan untuk Novel saya, segera terbit) . 

 

 

Sebelum dan Setelah Gempa.

Tidur adalah kenikmatan, menjadikan malam lebih nyaman, menjadikan gelap sebagai pasangan, batas dan oase,  untuk riuh hidup yang tak seorang setan pun tahu kapan selesai.


 

Saya terbangun, jauh sebelum gempa. Jam 3 pagi WITA. Tertidur karena membaca adalah nikmat yang masih dititipkan pada saya. Senangnya, kadang yang saya baca, menelusuk menjadi mimpi, menjadi bunga dan terasa nyata.

Adalah Veronika, yang kali ini datang. Bersama mata sembab, meringis karena terlalu banyak pil tidur. Veronika yang sampai bab 4, masih berpikir bahwa sehat dan muda adalah waktu yang tepat, untuk Mati. (Veronika decides to die- Paulo Coelho)

Jam 5 pagi, atau entahlah. Orang- orang terdengar berlari keluar kamar, ranjang kayu kamar saya berguncang, pot bunga bergoyang, gitar jatuh dari sandarannya. Setengah sadar, saya berpikir, Setan yang menghuni kamar ini sedang bercanda. Tapi guncangan belum berhenti, saya belum tahu pasti, apa ini. Teriakan di luar menjadi jawaban, Gempa. Siapa bilang gempa dan bencana hanya jadi celaka? Tercatat ratusan tahun lalu,  gempa jadi pegangan, jadi simbol, jadi metafora dan nyata,  satu andalan untuk Voltaire yang Agung, di tuangkan pada Candice dan Poème sur le dèsastre de Lisbonne. Atau mungkin, hanya seperti yang dikatakan mereka-mereka, Manusia selalu punya kata-kata untuk sesuatu dan hal lainnya.

Mati. Saya pikir, kalau pun bisa memilih dari beribu cara yang disediakan Tuhan , saya tidak akan mati karena Gempa. Walaupun saya selalu berpikir hidup pun tak perlu panjang-panjang lah. Gadis kecil sipit di Canggu pernah bilang mau mati saja kalau susu sudah kendor, kalau libido malah sering molor. Tapi mungkin tidak dengan Gempa, atau bencana alam lainnya. Tapi juga tak secepat  dan tak seindah Soe, yang ingin mati disisi Manisnya (red: Soe Hok Gie, Selasa, 11 November 1969). Tapi tak juga saya mau mati karena sakit berkepanjangan, repot dan mahal. Tidak juga mati diburu, seperti Escobar. Capek, kesana kemari dan saya mudah lelah belakangan ini, pasti karena umur.

Ah, tak tahulah, mati pun plin-plan. Biarlah, jadi urusan semesta dan Tuhan pemiliknya. Harapannya, semoga saya di waktu mayit, masih terlihat segar ketika pelayat datang.

 


Semua hal kembali menjadi rutinitas setelah gempa, seolah tak terjadi apa- apa. Sapi-sapi diangon, musik-musik di pasang dengan bingar, dan diri-diri dijajakan di Legian.

Sampai jumpa, di Gempa selanjutnya.


 

Dan Tidur, adalah kutukan. Memisahkan awang-awang dan sadar. menghilangkan kekuasaan sesuatu atas sesuatu lainnya. Menunda ku, untuk menikmatimu sepenuh dan selamanya. 

 

(Bali, 29 Juli 18)

 

Anti-Yang paling Nyeri -nya Sarani

Yang paling nyeri dari tidur kemalaman adalah ingatan tentang gang-gang temaram nun jauh di Utara, dihiasi lampu-lampu natal, datang terlalu awal di Oktober yang terlalu sejuk, menghiasi taman dan ruko-ruko di sepanjang centrum, Wageningen dan Amsterdam.

Seperti malam-malam lainnya, saya terjaga hingga larut. Otak kosong terpaku pada layar smartphone, setelah lelah menonton serial- serial kacang di internet. Bergulat di kasur kelebaran , sendirian, setelah kenyang menyantap Nasi padang yang ke-200 kalinya semenjak pulang. Atau Nasi campur, atau Gado-Gado. Atau Es Kelapa muda.

Yang paling nyeri dari menu diatas adalah kenyataan bahwa saya telah pulang.

Menu- menu menjadi tonggak, menjadi jurang, lebar membentang. Sebuah Penanda, tegak dan besar. Bahwa saya pulang. Bahwa  saya terpisah puluhan ribu kilometer, dari desa dan kota yang kini, hampir tiap sudut dan tikungannya, terpatri kenangan dan cerita. Menu-menu seperti air kelapa muda adalah bak mukjizat di Belanda dan Eropa utara. Saya tiba- tiba teringat Om Haydar dan istrinya, pemilik Catering Sarinah Java Kitchen di bilangan Ceintuurbaan. Yang dulu menjadi pengobat rindu,  kala jauh, dengan rendang dan sayur buntjis nya, menepis gelisah akan pulang yang tidak mungkin digugat.

Besok saya akan makan sayur buntjis, untuk Om Haydar dan istrinya, untuk Musa si pelayan yang pelupa.

Terjaga hingga lewat malam juga membuat saya mengingat ritual-ritual dan laku-laku di malam hari di Dijkgraaf ataupun Manzaaderf. Seperti melinting tembakau , menonton bola di St. James, menunggu Giulia, atau bermain futsal dengan rombongan TKI gelap Indonesia. Saat winter, saya asik memandangi lalu lalang , menertawai laki-laki yang High dan Tipsy,  malu menawar harga di De Wallen. Atau di Waterhole, berdansa hingga pagi, pada lagu-lagu popular Led Zeppelin, The Beatles atau Bob Marley. Dan pulang bersepeda, setengah terbang dan membelah malam.

Hari ini saya menulis untuk ingatan-ingatan itu. Harapan dan khayalan tanpa henti. Malam ini saya kirimkan pesan pesan lewat whatsaap untuk teman-teman di Eropa, tak ada balasan hingga 10 menit bersela, semua sedang sibuk- karena jam kantor belum usai di benua Eropa.

 

Yang paling nyeri, dari semuanya, adalah jarak yang lekang , waktu yang abadi dan kita yang fana.

 

(Tukad Badung, 26 July 2018)

Ode Denpasar

Sukacita dapat datang dalam  bentuk apa saja, kadang bergaun merah , menjadikan terang di gelap dan temaram lampu-lampu, menjadikan tenang di tengah deru musik musik berpacu….

—————————————————————————————————————————————–

Orang-orang kantor pulang berburu, berburu uang dan napsu. Jalan penuh muka lusuh, mimpi-mimpi mobil baru, cicilan -cicilan jadi pemicu, istri dan anak menunggu. selingkuhan dan adik adik tinder menggoda jalan pulang, berbohong lembur menggantang  malam….

—————————————————————————————————————————————–

Aku tak punya rumah, aku tak tahu kemana kembali. Ku rindukan banyak tempat, kebun mangga ayahku yang sering diserang sapi- sapi Madura contoh nya. Atau Baita Segantini, coklat hangat ditangan sembari menikmati salju-salju yang menutup dolomite-dolomite agung di San Martino, Trentino. Tapi itu bukan rumah.

Aku merasa senang menghabiskan waktu di Bandung, bercengkrama dengan keluarga kecil abangku, melahap lalapan pedas dan petai bakar Ibu Imas. Sama lahapnya saat Rosella merebuskanku gurita, membuat salad musim panas, di campur tomat dan mayonnaise. Tapi itu bukan rumah.

Aku memikirkan Jogja akhir- akhir ini. Lukisan lukisan ingatan lama pada Waisak yang sesak, penuh dupa penuh warna. Borobudur yang lampau, Malioboro yang gersang,  Sosrowijayan yang murah dan Sarang kembang yang malang. Aku teringat pesan Pak Tamrik dan Bu Yami, petani mulia di pedalaman Kepanjen. Bahwa kasur dan goreng pisang panas selalu ada, kapan pun aku tetapkan ingin datang, Tapi itu bukan rumah.

Bali tak pernah usai, tak tahu akhir pekan atau siang malam. Sajen- sajen yang kekal, kebaya- kebaya sempit dan pecalang, digores pelan pelan, pada bar- bar bernama latin, kemajuan jaman dan atas nama kepentingan. Pantai- pantai yang tak dapat ditahklukan, berbau tabir surya tak usai-usai dari kulit putih yang tak henti datang.

Lalu, party-party jadi hambar, beer beer bintang berubah usang. Wajah wajah rupawan yang mengundang, memudar pelan pelan. Rambut – rambut putih, bermekaran. Aku butuh tempat pulang.

Lalu diskusi- diskusi menjadi kosong,  pikiran-pikiran melompong. Aku pikir setelah Amsterdam, aku benar- benar pulang. Nyata nya, aku masih mencari, kemana pulang.

—————————————————————————————————————————————–

Dan nestapa,  dapat datang dalam  bentuk apa saja. Kali ini bergaun merah , di lantai dansa. Menebar gusar, menjadikan gelap , menepis tenang….. 

Denpasar, 10th of July, 18.

Puteri Meritutora

Lalu malam yang panas menyambut di Ujung Pandang, terminal 5, Hasanudin. Antrian panjang wajah lelah dan cemberut, dipermainkan maskapai singa terbang, mengisi ruang tunggu yang padat.

Jam 3:15 pagi hari, WITA. Waktu Indonesia Tengah ku, terakhir untuk bulan Juni. Aku menuju Timur. Negeri sang Cendrawasih, burung kiriman surga. Aku menuju Indonesia, paling Timur, tempat revolusi yang belum selesai, berbintang kejora. Aku menuju Timur, pulau terakhir yang bergabung NKRI, tempat emas-emas dikeruk, hak-hak dikebiri, dan lelah pada janji-janji birokrasi dan politisi.

Pesawat memutar, mengelilingi Papua barat, aku mengantuk. Sebagai laki-laki tanpa kopi, mengantuk selalu jadi teman perjalanan. Aku tiba di Sorong, menyambut matahari pertama di waktu timur. Senyum hangat pramugari, kalah hangat dengan harapan-harapan akan kejadian di depan yang ku nanti. Akan ku habiskan 2 mingguku, bercengkrama, berbaur, dan belajar dari saudara-saudara timurku, tentang pala dan pasrah. Sorong bukan tujuan akhir, pesawat kami beranjak menuju Kaimana, yang beberapa tahun belakangan memulai program sejuta pala. Dari jendela pesawat, karang karang jelas di bawah biru nya laut. Dari Kaimana, kami menuju Manokwari, ibukota provinsi. Aku meminta segelas air, pada Adjani, pramugari yang nanti ku tahu berasal dari Bogor. Lalu tertidur, hingga pesawat berhenti di tujuan ku, Fakfak, Kota Pala.

Wajah-wajah ceria itu, menanti ku di depan ruang kedatangan bendinding triplek bandar udara Fakfak. Dengan logat yang asing namun menarik, menyambut hangat. Dekapan- dekapan, perkenalan perkenalan, lalu kami menuju ke rumah salah satu keturunan Raja atau pertuanan di Fakfak, Uswana.

Tak hanya karena tugas kantorku yang membawaku ke Papua, tapi harapan-harapan jauh sebelum hari ini. Pada malam-malam setengah sadar karna “rumput” di Belanda, di temaram kamar busuk mahasiswa di Dijkgraaf, aku menikmati obrolan dan basa-basi dengan Pitor. Pitor yang jauh berjalan, menyusuri jauh banyak tempat baik di Indonesia maupun dunia. Pitor yang kurus dan hitam, menyesap rumput dalam- dalam dalam dekapan bir atau wine murah di jumbo. Aku ingat bertanya pada Pitor, tentang tempat untuk tinggal, jika pulang dan tua di Indonesia. Pitor menjawab tegas ” Timur, Mei”.

 

…………………………………

Fakfak adalah Pala. Pala yang berasal dari puteri, dan menjadi ibu. Puteri yang menjadi segalanya, tempat menggadang nasib, menanti buah-buah pala masak, dijual pada cukong dan Ongko Ongko, yang sudah kaya, bervila di Bali dan bersungut-sungut memainkan harga.

Puteri bernama Meritutora adalah pala. Pala yang menjadi ibu, menyusui semua manusia di Fakfak, menjadikan mereka hidup. Puteri dan ibu pala, memberi biji dan fuli, membantu tiap orang tua di Fakfak, menyekolahkan anak-anak hingga ke Bandung. Pala sudah jadi primadona, sejak dahulu jaman Alburquerque. Pala tetap jadi primadona, dan tetap bukan jadi milik rakyatnya. Pundi-pundi dari pala, mengendutkan cukong dan mafia nya. Sementara sang petani, saudara-saudaraku yang timur, terjerat Ijon.

 

 

Tuhan, sang Hyang Widi Wata, berkati hamba, pada jalan dan harapan di Timur Indonesia.

 

(Fakfak, 2018)

 

Hari- Hari setelah umur baru

Hari – hari biasa di Bali, seperti hari- hari istimewa di Djakarta. Rombongan kawula, menutup jam kantor, berjanji berburu mengejar mentari, yang berdansa , menor di balut oranye di pelupuk timur.

Berbulan- bulan tanpa hujan, tapi harapan belum meranggas. Tersiram segar janji janji sustainability, di tambah manisnya uang gaji. Aku tenggelam di lautan referensi dan tenggat waktu adalah ibu kontrakan yang kejam. Kadang kaki membawaku ke Puri. Menikmati kerlingan gadis gadis berkebaya magis dan khusuk di doa, dirapalan mantra,  di dentingan lonceng pemanggku. namun pada banyak kadang, aku hanya habiskan malam menawarkan sesuatu untuk sesuatu.

Di 29, hidup seperti biasa. Kita bisa saja bertemu pada malam yang singkat, entah di Sanur, melebur bersama pasir-pasir. Atau di tempatmu, terbahak di panjang nya lorong- lorong kamar kamar sewa. Kita bisa berdansa di Casablanca, atau sekedar pelan menyesap bir-bir sialan, menikmati orang tua yang menghabiskan pensiun nya. Kita bisa bercengkrama hingga pagi, di depan Berawa, atau pura-pura peduli dengan omong kosong bule- bule tipsy.  di Batu Belig, kau menjelma menjadi tatapan penuh rindu, dan dekapan yang hangat, di balut kemeja pantai yang cerah. Kau bisa saja datang dalam bentuk anggur yang manis, Cap orang tua. Menemani racauan hingga ke ubun, menutup mata dengan damai, tanpa tanya yang tak usai-usai.Kita mungkin telah melakukannya berulang-ulang, kau dan aku yang mendapati orang -orang asing untuk kita nikmati, membagi malam, mengisi kepala, mengusik dada, membelah kasurmu,menjadi dua. Tapi lara tak dapat dilipur, resah susah dikubur, hanya dengan berkeringat di malam-malam saja.

 

Di Bali, aku ingin berhenti. Aku tak lagi ingin kau, dalam bentuk macam- macam. Mozaik mozaik yang semesta titipkan, kau.

Di 29, aku ingin berhenti.

Terima kasih, bersulang untuk hidup yang lebih dari ini.

 

Tukad Pakerisan’s thought

Lalu malam- malam gegap di Legian. Musik- musik pekak, memenuhi rongga rongga, gang- gang Poppies yang sempit.

Waria- waria berjajar, membusungkan dada. Gaun-gaun tipis mengundang, make up make up tebal memalsukan, senyum lebar lebar memabukkan.Aku teringat berita, sang waria tenar, berkoar akan mengandung bila waktu nya tiba. Memenuhi kolom -kolom berita negeri, mengambil alih, mengalahkan Ahok yang di tinggal istri.

Kita bercengkarama, gadis sipit tinggi semampai, berkisah Jakarta yang jauh dan pikuk di barat sana. Matamu memerah, perut ku memanas setelah botol ketiga. Cerita- cerita Eropa masih bisa ku jual, mengundang perhatian. Padahal ada perih, ada rindu setiap kusebut namanya. Kita berjalan pelan, diselimuti malam panas di Kuta, kulit kulit putih memenuhi ruang mata, penuh, berserakan laksana sesajen. Pesta baru saja dimulai, di Legian atau pun dikepalaku.

di Canggu, aku menikmati pantai setelah menandaskan Plaga. Kutinggalkan semua, Bullough, García Márquez dan Dunia Shopie terbengkalai di lantai kosan tukad Pakerisan. Aku merebahkan diri, di Berawa, yang hitam dan kau yang setia mendengarkan. Ombak – ombak menyapu daratan, membawa tawa dan serapah kita ketengah lautan, membaurkan nya dengan ubur ubur malam, diburu penyu penyu , menjadi sia- sia seperti doa -doa.

kemanakah Tuhan,?

Aku dirundungi dewa- dewa, aku di selimuti dupa-dupa. Aku dikelilingi sajen-sajen, tapi kemanakah Tuhan? Aku teringat tulisan kawan, tentang eskapisme. Aku tak ingin Bali jadi pelarian, aku tak ingin hidup jadi pelarian. Aku tak ingin hidup berlarian,  Aku tak ingin berlarian.

Lalu, pagi- pagi buta kau bilang, berhentilah meracau.

 

Aku merindukan Tuhan, di tengah Legian, di malam nya Canggu, di teriknya dan padat nya Denpasar.

 

Ode di Bali

Denpasar lah kau,

liku liku kelana terbentang,

nasib dan nadir berserakan, menyaru sesajen penuh di trotoar.

….

Bli- Bli berbadan kekar, senyum ramah mengembang.

Luh – luh manis, mengajak berdekapan, membuang jauh jauh kesepian.

Tukad- Tukad yang panjang, rumah- rumah kontrakan.

….

Aku ingin ke Sanur, tenggelam bersama Surya,

untuk kembali bersinar di hari esoknya.

ditunggui turis turis telanjang dada,

di puja puja sepanjang tahun, setelah Desember.

 

Aku ingin ke Badung,

menatap Wisnu , menjadi kerdil seperti asa- asa.

Aku menyasar jalanan, keringat kuyup berbau omong kosong.

…..

Aku tidur bersama doa- doa lama,

terpatri pada harapan para papa,

dengki dan iri jauh- jauh ku sapu,

Smoga pergi selamanya.

 

Aku gundah di negeri Dewa dewa.

(Denpasar, 2 April 2018- minggu pertama Bali)